makalah ppkn

PANCASILA DI KEHIDUPAN MASYARAKAT

Karya Tulis yang disusun untuk Melengkapi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah PPKN

 

Disusun Oleh

 

 

Felesia Febelina
201212005

 

 

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
 UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2012

 

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nyalah karya tulis yang berjudul Pancasila dan masyarakat dapat terselesaikan.

Karya tulis ini disusun agar pembaca dapat  mengetahui pengenalan pancasila di masyarakat,penerapan pancasila, pancasila sebagai sumber nilai, dan pengaruh globaisasi terhadap pancasila,serta untuk memenuhi tugas bahasa indonesia. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak dan sumber-sumber yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini,khususnya:

  1. Bapak Dr. Syahrial Syarbaini, Ph.D selaku dosen PPKN yang telah mengajar dan membimbing dalam penulisan karya tulis ini,sehingga dapat terselesaikan.
  2. Orang tua dan teman-teman yang telah membantu dan memberi dukungan sehingga karya ini dapat terselesaikan.

Penulis meminta maaf  bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan karya tulis ini dan terdapat  kesalahan-kesalahan dalam penulisan karya tulis ini baik dari segi teknis maupun dari segi materi, untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan penulisan karya tulis ini.

Akhir kata penulis berharap agar karya tulis ini dapat berguna dan  memberikan  informasi yang sesuai dengan minat pembaca.

                                                                                          Jakarta, 31 Juli 2012

 

FELESIA FEBELINA

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………… i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………..ii

BAB I.PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang………………………………………………………….

1.2  Rumusan masalah………………………………………………………………

1.3  Tujuan Penelitian………………………………………………………………..

1.4  Sumber Data……………………………………………………………………

1.5  Metode dan Teknik………………………………………………………………

1.6  Sistematika Penulis…………………………………………………………….

BAB II.PEMBAHASAN

2.1   Awal Pengenalan Pancasila dalam Masyarakat …………………………

2.2   Penerapan Pancasila dalam Masyarakat …………………………………

2.3   Pancasila sebagai Sumber Nilai ……………………………………………………

2.4   Pengaruh Globalisasi terhadap Pancasila…………………………………………………

BAB III.KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………

3.2 Saran…………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA

RIWAYAT HIDUP PENULIS

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kenyataan hidup berbangsa dan bernegara bagi kita bangsa Indonesia tidak dapat dilepaspisahkan dari sejarah masa lampau. Begitu juga dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didalamnya terdapat Pancasila sebagai dasar negaranya. Dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila telah menelusuri sejarah kita di masa lalu dan  untuk melihat tugas-tugas yang kita embankan ke masa depan, yang menyadarkan kita akan perlunya menghayati dan mengamalkan Pancasila. Sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa Pancasila yang berakar di Indonesia senantiasa mampu mengatasi percobaan nasional di masa lampau. Dari sejarah itu, kita mendapat pelajaran sangat berharga bahwa selama ini Pancasila belum kita hayati dan juga belum kita amalkan secara semestinya. Adanya globalisasi telah terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan kebangsaan, ini dikarenakan adanya perbenturan kepentingan nasionalisme dan internasionalisme.

Saat ini tak banyak lagi yang paham dengan Pancasila, bahkan sekadar mengingat sila-sila dari dasar negara itu pun sudah banyak yang lupa. Tidak mahasiswa, pelajar, pegawai, bahkan anggota DPR pun bisa lupa. Seharusnya pancasila sudah mendarahdaging dalam jiwa mereka sebagai anggota DPR. Kalau mereka saja tidak hafal bagaimana mereka bisa mengamalkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan kehidupan kebangsaan. Dan bagaimana mereka bisa menjadi panutan rakyat-rakyat indonesia? Pancasila adalah falsafah bangsa dan menjadi dasar negara kita dengan nilai-nilai inti (values) yang semestinya telah tertanam dalam sanubari anak bangsa, apalagi anggota DPR. Orang bijak bilang “Values is something burning inside that make us easier to say NO!”, sesuatu yang membara dalam hati yang membuat kita mudah mengatakan “tidak” untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai itu. Seperti diungkapkan pengamat politik J Kristiadi. Bahwa Pancasila itu bukan untuk dipidatokan melainkan dilaksanakan. Menurutnya, selama ini Pancasila cuma dipidatokan dan dijadikan alat indoktrinasi. “Rakyat tak cukup hanya dipidatokan, tapi bagaimana para pemimpin melaksanakan Pancasila dengan benar,” tegas Kristiadi dalam tayangan dialog Barometer SCTV, Rabu (1/6) malam. Banyak sekali tingkah laku, sikap, dan prinsip yang jauh dari nilai nilai pancasila yaitu, ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan. Lantas, jika sudah seperti ini bagaimana harusnya Pancasila dimaknai? Apakah cukup dengan menghapalnya? Kalau memang harus melaksanakannya, bagaimana caranya? Di makalah ini penulis akan membahas tentang penerapan pancasila didalam kehidupan bermasyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana awal pengenalan pancasila di dalam masyarakat?
2. Bagaimana penerapan pancasila dalam kehidupan masyarakat?
3. Apa saja penerapan Pancasila sebagai Sumber Nilai?
4. Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap pancasila?

1.3 Tujuan Penelitan

1. Ingin tahu bagaimana pengenalan pancasila terhdap rakyat Indonesia.
2. Ingin tahu bagaimana penerapan pancasila yang diterapkan di kehidupan
masyarakat Indonesia.
3. Ingin mengetahui apa saja penerapan Pancasila sebagai sumber nilai.
4. Ingin tahu apa aja pengaruh dari globalisasi terhadap Pancasila sebagai Falsafah
dan Dasar Negara.

1.4 Sumber Data
Data-data yang disajikan dalam karya tulis ini merupakan data yang bersumber dari buku-buku dan artikel di internet yang berhubungan dengan topik yang diangkat.

1.5 Metode dan Teknik
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan karya tulis ini adalah metode kepustakaan, yaitu metode bukan penelitian lapangan.

1.6 Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika penulisan yang meliputi: halaman judul, kata pengantar, daftar isi, bab I pendahuluan yang berisi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, sumber data, metode dan teknik, sistematika penulisan. Bab II berisi tentang:  awal pengenalan pancasila terhadap masyarakat, penerapan pancasila dalam kehidupan masyarakat, pancasila sebagai sumber nilai, dan pengaruh globalisasi terhadap pancasila. Bab II yang menyajikan kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Awal Pengenalan Pancasila di dalam Masyarakat

Sebelum kita membahas bagaimana pengenalan pancasila terhadap masyarakat Indonesia, kita terlebih dahulu mengetahui pengertian pancasila.
Secara etimologi istilah Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta Pancasila memiliki arti yaitu, Panca artinya lima
Syila artinya batu sendi, alas/dasar, Syiila artinya peraturan tingkah laku yang baik
Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita Republik Indonesia Tahun. II No. 7 tanggal 15 Februari 1946 bersama-sama dengan Batang Tubuh UUD 1945.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dijadikan tuntunan dan pegangan dalam mengatur sikap dan tingkah laku masyarakat Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, mayarakat dan alam semesta.
Pancasila sebagai dasar negara, ini berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan bernegara seperti yang diatur oleh UUD 1945. Pancasila hadir bukan sebuah kebetulan yang tidak bermakna. Hadirnya pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia merupakan upaya keras para pendiri bangsa ini agar indonesia merdeka memiliki landasan yang kukuh. Hal ini dapat ditemukan sebagai asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung.
1. Asal mula langsung
Adalah asal mula yang langsung berkaitan dengan terjadinya Pancasila sebagai dasar filsafat negara; yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan sejak dirumuskan dalam sidang BPUPKI Pertama, Panitia Sembilan, Sidang BPUPKI Kedua serta sidang PPKI sampai pengesahannya.
Adapun rincian asal mula langsung Pancasila sebagai berikut:

a. Asal Mula Bahan (kausa materialis)

Nilai-nilai dasar Pancasila  digali dan diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai kebudayaan serta nilai religius yang dimiliki bangsa Indonesia; maka kausa materialis / asal mula bahan Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri.

b. Asal Mula Bentuk (kausa formalis)
ialah siapa yang merumuskan Pancasila sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945. Bentuk, rumusan dan nama Pancasila sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945 dirumuskan dan dibahas oleh Ir. Soekarno bersama Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI lainnya; maka kausa formalis / asal mula bentuk Pancasila adalah : Ir. Soekarno , Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI.

c. Asal Mula Karya (kausa efficient)

ialah asal mula yang menjadikan Pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar negara yang sah. PPKI sebagai pembentuk negara, dan atas kuasa pembentuk negara yang mengesahkan pancasila menjadi dasar negara yang sah; maka kausa efficient / asal mula karya Pancasila adalah PPKI.

d. Asal Mula Tujuan (kausa finalis)

Ialah apa tujuan para pendiri bangsa merumuskan dan membahas Pancasila.
BPUPKI dan Panitia Sembilan termasuk Soekarno dan Hatta merumuskan dan membahas Pancasila tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara; maka kausa finalis / asal mula tujuan Pancasila adalah : anggota BPUPKI, Panitia Sembilan serta Soekarnoa dan Hatta.

2. Asal Mula yang Tidak Langsung.
Adalah asal mula yang tidak langsung berkaitan dengan terjadinya Pancasila sebagai dasar filsafat negara; yaitu asal mula yang sebelum Proklamasi Kemerdekaan asal mula nilai-nilai Pancasila yang terdapat dalam adat istiadat, kebudayaan, serta dalam nilai-nilai agama bangsa Indonesia .
Apabila dirinci asal mula tidak langsung Pancasila sebagai berikut
a. Unsur-unsur / nilai-nilai dasar Pancasila (nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan) sebelum secara langsung dirumuskan menjadi dasar filsafat negara, telah ada dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
b. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat ( berupa nilai adat istiadat, nilai kebudayaan serta nilai religius) jauh sebelum membentuk negara.

 

 

2.2 Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Masyarakat

Kedudukan Pancasila

  1. Sebagai Dasar: Dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan dan mengatur penyelenggaraan negara (norma).
  2. Sebagai Pandangan Hidup : sebagai pendoman hidup, pentunjuk hidup, dan jalan hidup yang digunakan dalam sehari-hari.
  3. Sebagai Ideologi : pancasila sebagai ideologi ini ditetapkan dalam ketetapan MPR no. XVIII/MPR/1998 pasal 1, yang menyatakan bahwa Pancasila sebagimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea IV adalah dasar negara dari NKRI yang harus dilaksankan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.
  4. Sebagai Jiwa Bangsa : yaitu dimana lahirnya Pancasila yang bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia.
  5. Sebagai Kepribadian Bangsa : dalam pengertian ini adalah sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia mempunyai ciri khas, dimana dapat dibedakan dengan bangsa lain. Ciri-ciri khas inilah yang disebut kepribadian Bangsa Indonesia adalah Pancasila.
  6. Sebagai Perjanjian Luhur : pancasila disahkan bersama-sama dengan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 agustus 1945. Dimana PPK ini merupakan wakil dari seluruh rakyat yang mnegsahkan perjanjian luhur tersebut.
  7. 7.      Sebagai Cita-Cita dan Tujuan Bangsa : cita-cita luhur bagnsa Indonesia tegas termuat dalam Pembukaan UUD 1945 karena Pembukan UUD 1945 merupakan perjuangan jiwa proklamasi, yaitu jiwa Pancasila.

 

Tiga Dimensi Nilai dalam Pancasila

  1. Realitas : nilai-nilai dasar yang ada pada ideologi secara riil hidup didalam serta bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah bangsa Indonesia.\
  2. Idealisme : nilai-nilai dasar yang ada pada ideologi mengandung idealisme yang memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam pratik kehidupan sehari-hari.
  3. Fleksibilitas : bahwa ideologi memiliki keluwesan yang memungkinkan dan merangsang pemikiran baru yang relevan dengan ideologi yang bersangkutan tanpa menghilangkan jati diri yang terkandung dalam nilai – nilai dasarnya.

 

Pancasila sebagai dasar negara.

Pancasila sebagai dasar negara yang berarti Pancasila berfungsi sebagai dasar yang mengatur pemerintahan suatu negara atau sebagai dasar aturan penyelenggaraan suatu Negara. Menurut Prof. Dr. Notonegoro, SH. Pancasila merupakan suatu norma hukum pokok atau pokok kaidah fundamental yang memiliki kedudukan tetap, kuat, dan tidak berubah.

Kedudukan pancasila sebagai sumber segala sumber hukum atau sebagai sumber tertib hukum dapat dijabarkannya suatu sistem dalam sturktur fungsi pancasila sebagai:

  1. Pancasila sebagai dasar negara adalah merupakan sumber dari segala sumber hukum (sumber tertib hukum) Indonesia.
  2. pancasila merupakan asas kerohanian tertib hukum Indonesia yang dalam pembukaan UUD 1945 dijabarkan dalam empat pokok pikiran.
  3. Mewujudkan cita-cita sebagai dasar hukum yang tertulis maupun tidak tertulis.
  4. Pancasila mengandung norma yang mengharuskan UUD 1945 dengan isi yang mewajibkan pemerintah dan penyelenggara negara yang lain termasuk para penyelenggara partai dan golongan fungsional memegang teguh cita-cita rakyat yang bermoral luhur.
  5. Pancasila sebagi sumber semangat kebangsaan bagi UUD 1945, penyelenggara negara , pelaksana pemerintah, termasuk penyelenggara parati dan golongan fungsional.

Oleh karena itu, dengan semangat kebangsaan yang tinggi dan luhur itu dilandaskanlah suatu konsep kebangsaan yang diberi nama Pancasila. Lima sila yang berarti bangsa Indonesia.

Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan keseragaman sistematikanya melalui Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 itu tersusun secara hirarkis-piramidal. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang saling mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari pembenarannya pada sila lainnya adalah tindakan sia-sia. Oleh karena itu, Pancasila pun harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jika sila-sila dalam pancasila di pisah-pisahkan maka yang terjadi adalah esensi pancasila sebagai dasar negara akan hilangu. Selain itu secara kualitas bahwa nilai-nilai pancasila adalah bersifat objektif. Artinya esensi nilai-nilai pancasilaadalah bersifat universal yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.

 

 

Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Suatu masyarakat dan suatu bangsa memiliki suatu pandangan hidup atau filsafat hidup masing-masing yang berbeda dengan bangsa lain. Filsafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang merupakan kenyataan objektif yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Pancasila memberi petunjuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan suku atau ras.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan negara yang dimaksud adalah bahwa semua aturan kehidupan hukum kegiatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berpedoman pada pancasila. Karena pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum bangsa dan negara republik indonesia.

Orang yang berfikir kefilsafatan ialah orang yang tidak meremehkan terhadap orang yang lebih rendah derajatnya dan tidak menyepelekan masalah yang kecil, dan selalu berfikiran positif, kritis, universal dan selalu optimis. Sila-sila yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Secara sederhana filsafat diartikan sebagai keinginan yang sungguh-sungguh mencari kebenaran. Konsep filsafat pancasila dijabarkan menjadi sistem Etika Pancasila yang bercorak normatif. Sumber pengetahuan pancasila pada dasarnya adalah bangsa indonesia itu sendiri yang memiliki nilai adat istiadat serta kebudayaan dan nilai religius.
Tentang kebenaran pengetahuan pancasila berdasarkan tingkatnya, maka pancasila mengakui kebenaran yang bersumber pada akal manusia. Potensi yang terdapat dalam diri manusia untuk mendapatkan kebenaran dalam kaitannya dengan pengetahuan positif. Pancasia juga mengakui kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi/perasaan.
Manusia pada hakikatnya kedudukan kodratnya adalah sebagai makhluk tuhan yang maha esa, maka sesuai dengan sila pertama pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak sebagai tingkatan kebenaran yang tertinggi.
Selain itu dalam sila ke 3, ke 2, ke 4, dan ke 5, maka epistimologis ( hakikat dan sistem pengetahuan ) pancasila juga mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia makhluk individu dan sosial.

 

 

Ciri-ciri atau karakterisktik berpikir filsafat:

  1. Sistematis : Sistematis adalah berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis. Sistematis juga bisa diartikan adanya hubungan fungsional antara unsur-unsur untuk mencapai tujuan tertentu.
  2.  Radikal : Artinya berfikir sampai keakar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani “radix” yang berarti akar.Dengan demikian berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar akarnya dan Berfikir sampai ke hakekat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan.
  3. Mendasar : Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya berhenti pada periferis ( Kulitnya ) saja, tetapi sampai tembus ke kedalamannya.
  4. Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.
  5. Komprehensif : Pemikiran yang luas karena tidak membataasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui  hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu – ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup.
  6. Representatif : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis


Wujud Aplikasi Pancasila sebagai Dasar Negara dalam Kehidupan Masyarakat

  • Sila Satu : Ketuhanan Yang Maha Esa.
    wujud pengaplikasian nya kita sebagai rakyat indonesia harus mengohrmati dan mengahargai setiap agama atau kepercayaan yang ada di Indonesia. Tidak saling membeda-bedakan, bersikap mengahargai setiap warga yang menjalankan ibadah, membina kerukunan antar pemeluk, dan yang paling penting adalah tidak memaksakan kehendak orang lain untuk menganut agama tertentu.
  • Sila Kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
    dalam pengamalan sila kedua ini mengandung pengertian bahwa manusia berhak memenuhi keinginannya. Namun demikina, harus taat terhadap keterbatasan dan tanggung jawabnya sebagai manusia dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Setiap warga negara harus mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia, sebagai asas kebersamaan bangsa indonesia. Dengan menjunjung tinggi persamaan derajat, hak, dan kewajiban maka seluruh warga negara akan mampu menegakkan dan memelihara kebersamaan yang dinamis
  • Sila Ketiga: Persatuan Indonesia.
    pengamalan dalam sila ketiga ini mengandung pengertian bahwa negara Indonesia terdiri aras berbagai suku bangsa. Oleh sebab itu perlu ditumbuhkannya sikap kebangsaan atau nasionalisme yaitu rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan sendiri, ketika NKRI terancam maka rakyat indonesia harus bersatu dan membela kedaulatan. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
    pengamalan dalam sila keempat ini mengandung unsur demokrasi, kekuasaan atau kedaulat tertinggi berada di tangan rakyat. Sila keempat ini dapat diwujudkan seperti bermusyawarah dalam mengambil keputusan, mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, hak dan kewajiban sama, dan tidak memaksa kehendak orang lain.
  • Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    pengamalan dalam sila kelima ini diwujudkan dengan mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong, karena sikap kekeluargaan dan gotong royong merupakan ciri khas bangsa Indonesia.  Bersikap adil terhadap sesama, dan tidak menggunakan hak milik yang bertentangan atau merugikan kepentingan umum.

Pengamalan Pancasila dalam Kehidupan Bernegara

Pengamalan pancasila dalam kehidupan bernegara dapat dilalukan dengan cara sebagai berikut

  1. Pengamalan secara objektif
    pengamalan ini dilakukan dengan cara melaksanakan dan menaati peraturan perundang-undangan sesuai  norma hukum negara yang berlandaskan pancasila. Pengamalan objektif bersifat memaksa dan disertai dengan sanksi hukum. Artinya, bagi siapa yang melanggar norma hukum akan mendapatkan sanksi.
  2. Pengamalan secara subjektif
    pengamalan ini dilakukan dengan cara menjalankan nilai-nilai pancasila yang berwujud norma etik ssecara pribadi atau kelompok sebagai pendoman bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai sumber etika bagi setiap warga negara dan penyelnggara negara. Melanggar norma etik tidak mendapatkan sanksi hukum melainkan sanksi diri sendiri.

 

2.3 Pancasila sebagai Sumber Nilai

Pengertian Nilai

Secara etimologis nilai berasal dari bahas Latin volore yang berarti berharga, baik, dan berguna. Nilai adalah sesuatu yang berharga, baik, dan berguna bagi manusia. Nilai merupakan suatu penghargaan atau suatu kualitas terhadap suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku manusia. Dalam tata ehidupan bernegara, ada yang disebut dengan nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis.
Nilai dasar adalah asas-asas yang diterima sebagai dalil yang kurang lebih mutlak. Nilai dasar berasal dari nilai-nilai kultural yang berasal dari budaya bangsa indonesia.
Nilai instrumental adlah pelaksanaan umum nilai-nilai dasar, biasanya dalam wujud norma sosial atau norma hukum. Walaupun lebih rendah dari nilai dasar, nilai ini tidak kalah penting karena daoat mewujudkan nilai umum menjadi konkret dan sesuai perkembangan zaman.
Nilai praktis adalah nilai yang dilaksanakan dalam kenyataan. Nilai ini merupakan bahan ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental sungguh-sungguh hidup dalam masyarakat atau tidak.

 

Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa

Dalam kehidupan manusia terdapat emapat nilai dasar yang menjadi landasan hidup. Empat nilai dasar itu adalah nilai kebaikan, nilai kebenaran, nilai keindahan, dan nilai ketuhanan.
Menurut Prof. Dr. Notonegoro nilai dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Nilai material : yaitu nilai yang berguna bagi unsur manusia
  2. Nilai vital : yaitu nilai yang berguna bagi manusia untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas
  3. Nilai kerohanian : yaitu nilai yang berguna bagi rihani manusia.

Nilai-nilai Pancasila terdapat ke dalam nilai kerohanian, tetapi nilai kerohanian yang mengakui pentingnya nilai  material dan nilai vital secara seimbang. Di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut adalah nilai ideal, nilai material, nilai estetis, nilai sosial, dan nilai religius.

Bersikap Positif terhadap Nilai-nilai Pancasila

Sikap artinya respon yang diberikan seseorag terhadap sesuatu atau objek yang dihadapi. Sikap sendiri merupakan evaluasi umu yang dibuat oleh manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, atau objek tertentu. Sikap positif warga negara terhadap pancasila didasari oleh fungsi pancasila. Dalam bentuknya yang sekarang, pancasila berfungsi sebagai dasar negara sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, yang pada hakikatnya adalah sebagai sumber segala sumber tertib hukum. Selain itu, pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan negara atau penyelenggara negara. Sikap positif terhadap pancasila tercermin dalam kemampuan kita menerapkan nilai-nilai pancasila sebagai dasar untuk menilai dan menentukan baik buruknya, boleh tidak boleh, benar salah, gaya hidup,dan hasil kehidupan lainnya. Selain itu, dipergunakan untuk mempertahankan dan menegakkan hak dan kewajiban menurut aturan dan tata craa yang telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Sikap positif terhadap pancasila dapat ditunjukkan dengan cara:

  1. Memahami dan menghargai perbedaan agama atau kepercayaan yang hidup di Indonesia.
  2. Setiap warga negara harus menghargai hak asasi manusia.
  3. Memahami keberagaman suku bangsa, bahasa, dan agama di indonesia.
  4. Mengutamakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan.
  5. Mengahargai perbedaan pendapat dan pandangan antarsesama.
  6. Mengembangkan sikap yang mencerminkan asas kekeluargaan dan gotong royong.
  7. Mendukung kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan negara yang demokratis dan bebas. Contoh: dengan melaksankan pemilu yang baik dan bertanggung jawab.
  8. Mengembangkan sikap tolernsi.
  9. Menjadikan pancasila sebagai filter dalam mengantisipasi perkembangan dan perubahan zaman.
  10. Mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab. Kebebasan ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.
  11. Memanfaatkan sumber daya alam dengan baik.
  12. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi perekonomian dengan menghilangkan berbagai bentuk gangguan ekonomi, seperti KKN,dan monopoli yang bertentangan dengan pancasila dan merugikan rakyat.


 

2.4    Pengaruh Globalisasi terhadap Pancasila

 

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi merupakan proses penyebaran unsur-unsur baru atau hal-hal baru khususnya yang menyangkut informasai secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan teknologi di bidang komunikasi.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain.

Dampak negatif globalisasi :

1.      Globalisasi mampu menyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.

2.      Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

3.      Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.

4.       Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidak pedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

 

Dampak positif :

  1. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
  2. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa kita.

 

Sikap selektif terhadap pengaruh globalisasi

Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini yang di butuhkan adalah memperkuat rasa kebangsaan dan kebanggaan warga Negara terhadap bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bila ini terwujud, adanya globalisasi tidak akan melunturkan semangat kebangsaan kita. Globalisasi yang melanda dunia sekarang ini, berpengaruh pula pada bangsa Indonesia. Kita sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak bisa lagi menolak atau menghentikan proses global ini. Bangsa Indonesia telah membuka diri untuk selalu berhubungan dengan dunia lain di dunia.
Untuk menghadapi arus tersebut bangsa Indonesia perlu memperhatikan dua hal yaitu bagaimana mengelola globalisasi dan bagaimana memperkuat akar kebangsaan.
Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini yang di butuhkan adalah memperkuat rasa kebangsaan dan kebanggaan warga Negara terhadap bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bila ini terwujud, adanya globalisasi tidak akan melunturkan semangat kebangsaan kita.
Untuk memperkuat akar kebangsaan Indonesia kita harus mampu menggali potensi dalam negeri di segala bidang. Contohnya, meningkatkan kualitas SDM mobilisasi daya dan dana dalam negeri antara lain melalui program jaminan nasional, lebih menggunakan produk dalam negeri serta membangun rasa solidaritas bangsa secara keseluruhan.
Pendidikan nasional Indonesia diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai kualitas yang diperlukan untuk memasuki kehidupan masyarakat yang kompetitif. Yaitu, manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu mengembangkan potensi diri,mampu bersaing sesama manusia di masyarakat secara terbuka, memiliki kesadaran akan nilai positif dan negatif dari arus globalisasi serta memiliki daya tahan yang tangguh denagn suatu identitas budaya yang kuat danmenghadapi dampak negatif globalisasi.

 

 

Langkah – langkah yang dapat di lakukan oleh masyarakat untuk mengahadapi arus globalisasi yang dapat berpengaruh pada pancasila :

  1. Mengamalkan dan menanamkan nilai-nilai pancasila dalam diri sendiri.
  2. Kerja sama pemerintah dengan para tokoh agama, para pendidik, badan sensor, produsen, media cetak dan elektronik yang memberikan contoh terhadap pemahaman nilai – nilai Pancasila serta adanya dukungan masyarakat sendiri.
  3. Memahami dan menerapkan bahwa Pancasila sebagai dasar dan ideologi yang merupakan filter bagi masuknya budaya luar ke Indonesia.
  4. Menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsa Indonesia. Yang dapat diwujudkan dalam semangat dalam produk dalam negeri.
  5. Menerapkan dan menegakkan hukum secara tegas dan seadil – adilnya.
  6. Memperteguh agama dan ajarannya sebagai sumber moral dan pedoman hidup manusia.
  7. Dalam bidang pendidikan, para pendidik memberikan pelajaran pendidikan Pancasila / pendidikan kewarganegaraan, tidak hanya dalam segi kognitifnya melainkan juga menerapkan dalam kegiatan yang mengarah kepada afektif peserta didik.
  8. Menghargai hasil karya bangsa sendiri dengan menggunakan produk dalam negri.
  9. Mengembangkan budaya kerja keras untuk mencapai cita-cita.
  10. Mampu bersikap positif dan sportif.
  11. Menghormati Hak Asasi Manusia.
  12. Menghindari sifat konsumtif.

Pendidikan Pancasila Sebagai Solusi Penuntun Di Era Globalisasi

Untuk memperkokoh eksistensi Pancasila sebagai dasar negara dan cita-cita moral bangsa perlu dilancarkan gerakan untuk membasiskan Pancasila. Gerakan ini didasarkan bahwa ketahanan ideologi suatu bangsa terletak pada kekuatan sosial yang mendukungnya. Kita mengajak masyarakat untuk memperkokoh konsensus nasional tentang Pancasila sebagai dasar negara, memahami dan menghayati implementasi Pancasila di tengah-tengah arus globalisasi, dan membiasakan diri untuk menggunakan Pancasila sebagai “bintang penuntun” dalam menyelesaikan masalah bangsa di tengah-tengah arus globalisasi. Pancasila bukanlah sekedar transfer of knowledge, melainkan harus merupakan usaha raksasa untuk membangun kembali ethos kebangsaan, seperti yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan dulu. Masyarakat Pancasila akan terwujud apabila pengoperasian norma dasar Pancasila melalui pembuatan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan, yang terungkap dalam praktek dan kebiasaan bertindak penyelenggara kekuasaan negara memang benar-benar mencerminkan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Pancasila. Kontrol masyarakat terhadap pembuatan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan sangat diperlukan agar praktek dan kebiasaan bertindak penyelenggara kekuasaan negara selalu mencerminkan norma dasar Pancasila itu.

 

 

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pancasila adalah pandangan hidup Bangsa dan Dasar Negara Republik Indonesia serta merasakan bahwa Pancasila adalah sumber kejiwaaan masyarakat dan Negara Republik Indonesia, maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara Negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.
Untuk menghadapi dampak globalisasi diperlukan nilai–nilai Pancasila yang luhur agar bangsa kita tidak kehilangan kepribadian atau jati diri sebagai bangsa Indonesia. Maka dengan demikian, perlu adanya pemasyarakatan Pancasila pada bangsa Indonesia.
Selain itu, untuk mewujudkan hal tersebut bangsa Indonesia harus memiliki langkah-langkah dalam mengantisipasi arus globalisasi. Hal itu, ditujukan agar globalisasi tidak dapat mengikis dan mengubah nilai nasionalisme bangsa Indonesia.

Saran

Mahasiswa harus dikaitkan langsung dengan doktrin Bhinneka Tunggal Ika dan dapat berjalan dengan stabil, seluruh kaidahnya harus dituangkan dalam format hukum, yang selalu harus dijaga agar sesuai dengan perkembangan rasa keadilan masyarakat. Kita patut bersyukur, bahwa empat kali amandemen UUD 1945 dalam era reformasi nasional telah mampu menampung dinamika bangsa ini, khususnya dengan mengakui kesetaraan antara berbagai unsur dalam batang tubuh bangsa Indonesia serta mewadahinya dalam sistem dan struktur pemerintahan yang baru.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Kosasih Djahiri,Pancasila sebagai ideologi bangsa,Jakarta: Prenada Media,2008.

Amin, Zainul Ittihad. 2007.Materi Pokok Kewarganegaraan 1-6. Jakarta.Universitas Terbuka.

Bertens. Kess. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius.

Chotib, Drs. Dkk.2007.Kewarganegaraan 3 (Menuju Masyarakat Madani).

Jakarta. Yudhistira.

 

Habib Mustopo, M.1992. Ideologi Pancasila dalam Menghadapi Globalisasi dan Era

                   Tinggal Landas. Bandungan-Ambarawa: Panitia Seminar dan Loka Karya

Nasional MKDU Pendidikan Pancasila Dosen-dosen PTN/PTS dan      Kedinasan Pada tanggal 29 – 30 September 1992.

 

 

Hazairin, Prof. Dr. S. H.. 1985. Demokrasi Pancasila. Jakarta: Bina Aksara.

Kaelan. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: paradigma

Kansil, C.S.T.1971. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: Pradnya

Paramita.

 

Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 1990. Pendidikan Pancasila. Malang: IKIP Malang.

Notonegoro. 1995. pancasila secara ilmiah populer. Jakarta: Bumi Aksara.

Salam, Burhanuddin. 1985. Filsafat pancasilaisme. Bandung: Bina Aksara.

Sumarna,cecep.filsafat ilmu dari hakikat menuju nilai.2006.Pustaka bani quraisy:Bandung.

Soediman Kartohadiprojo 1970, Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, Bandung Alumni.

Wijianto,2006.Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship). Jakarta. Piranti Dharma Kalo Katama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>